Pembangunan manusia seutuhnya bukanlah pembangunan kebutuhan fisik dan infrastruktur manusia saja, namun pembangunan yang harus menyeimbangkan kebutuhan spiritual dan moral manusia juga, untuk itu sudah sewajarnya untuk semua pembangunan fisik yang berhubungan dengan ibadah dan kerohanian mendapat perhatian dan porsi yang cukup dari pemerintah.

“Sudah semestinya semua rumah ibadah dibangun dengan menggunakan dana APBD, di Puncak Jaya sebanyak 147 gereja sudah kami bangun dan semuanya lewat APBD, tidak usah khawatir nanti di periksa dan di tahan oleh BPK, sepanjang dana yang ada itu untuk rakyat, kenapa mau takut, karena uang yang ada memang untuk melayani dan menjawab pergumulan yang dihadapi rakyat, termasuk salah satunya pembangunan rumah ibadah,” kata Lukas Enembe Ketua DPD Partai Demokrat saat menengok pembangunan gereja GKI Maranatha Kelepasan Kampung Inggiri Biak yang sudah dirintis pembangunannya sejak 18 tahun lalu namun hingga kini belum tuntas – tuntas juga.

Menurutnya gereja itu penting, bahkan lebih penting dari pemerintah, karena gereja lebih dulu menyentuh peradaban manusia Papua di kampung – kampung, jadi sudah sewajarnya Pemerintah memberikan perhatian penuh terhadap pembangunan rumah ibadah. “Orang pusat dong datang tanya saya karena pembangunan rumah ibadah dan kebijakan saya memberi beasiswa kepada Sekolah Tinggi Alkitab Berbahasa Dani katanya melanggar aturan, saya tanya dorang, mana yang lebih dulu lihat masyarakat Puncak Jaya, kamu dari pusat atau gereja – gereja dan hamba – hamba Tuhan ini, mana yang lebih tinggi aturan – aturan yang Tuhan bikin atau buatan manusia, karena jebolan – jebolan Sekolah Alkitab ini yang menyebarluaskan Injil ke seluruh pelosok, jadi mereka pu` ilmu lebih tinggi dari ilmu di perguruan tinggi manapun, dan aturan yang mereka sebarkan itu aturan Tuhan, jadi yang mana yang di langgar,” kata Enembe memberi contoh bagaimana sebuah terobosan berani yang sudah ia terapkan di Puncak Jaya yang mendapatkan applaus dari masyarakat yang hadir di halaman depan gereja.

Menurutnya tidak ada yang perlu ditakutkan akan diperiksa dan sebaganya sepanjang semua yang dikerjakan untuk kepentingan rakyat, dan bukan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok, karena menurutnya kalau petugas mau tangkap berarti tangkap itu seluruh rakyat yang merasakan dan menikmati apa yang memang sudah menjadi haknya.

Dan sudah menjadi komitmennya apabila memiliki kewenangan yang besar yang dberikan Tuhan untuk mengatur Provinsi Papua, masalah pembangunan rumah ibadah itu akan menjadi perhatiannya sehingga tidak ada lagi gereja yang terkatung – katung hingg 18 tahun tidak selesai – selesai juga.

Pada kesempatan tersebut juga Lukas Enembe berkesempatan bertatap muka dengan salah seorang rekan lamanya sewaktu masih kuliah di Manado yang rupanya selama ini hanya berkomunikasi lewat telepon saja, dan kebetulan teman lamanya itu adalah Penatua di gereja tersebut.

“saudara ini selama ini sering mendoakan kami lewat telepon sejak masih jadi Wakil Bupati sampai dengan kemarin kami mau maju di Pilgub lima tahun lalu dan saat mau ikut Pilkada hingga kini dia masih setia buat keluarga kami, dan baru hari ini kami bisa tatap muka langsung dengan dia dan kami kaget dia gereja di sini”, kata Enembe sambil memeluk erat teman lamanya itu.
Pada kesempatan itu juga Lukas Enembe, S,IP atas nama keluarga berjanji akan memberikan dukungan penyelesaian pembangunan gereja dimaksud secara bertahap dan panitia di persilahkan selanjutnya berhubungan dengan Ny. Yulce Enembe.

“saya akan bantu, dan tidak usah disebutkan disini berapa yang akan kami keluarga bantu, nanti koordinasinya degan ibu saja langsung,” kata Enembe.

Sumber:(Bintang Papua)